Belajar & Berbagi

Rumah Kontrakan, Bisnis Properti untuk Passive Income

Rumah Kontrakan, Bisnis Properti untuk Passive Income dan Penghasilan di Masa Pensiun

Uang sewa sekian ratus ribu rupiah perbulan dikali 100 unit rumah kontrakan sama dengan sekian juta perbulan. Itulah salah satu pendapatan pasif, sebuah pendapatan yang kita sendiri sedikit atau bisa dibilang tidak ada kerja di dalamnya.


Berbeda dengan gaji yang kita dapat setiap harinya, setiap minggu atau setiap bulannya, itu adalah pendapatan aktif, sebuah pendapatan yang di dapat karena kita telah melakukan pekerjaan untuknya.

Menurut Robert T. Kiyosaki, penghasilan itu ada 2, yaitu penghasilan aktf (Active Income) dan penghasilan pasif (Passive Income).

Para pegawai / buruh, para ahli semacam dokter dll, para wirausahawan kecil/menengah, penghasilan mereka mungkin bisa termasuk jenis penghasilan aktif.
Sementara para investor, para pensiunan seperti Pegawai Negeri Sipil misalnya, para pemilik hak cipta sebuah karya, penghasilan mereka bisa termasuk penghasilan pasif.
(Bila ada yang salah atau kurang, mohon bantuannya untuk diperbaiki)

Beberapa waktu kebelakang, tentang Passive Income ini menarik perhatian saya.
Bisakah seorang buruh kecil seperti saya mempunya penghasilan pasif ini.
Ada 2 hal yang terpikirkan, yaitu Passive Income dengan ngeblog dan Passive Income dengan Rumah Kontrakan.
Untuk kemungkinan pertama, ngeblog, ternyata masih ada banyak hal yang perlu dipelajari. Saya mencoba untuk mewujudkannya lewat yang kedua, bisnis properti Rumah yang disewakan atau Rumah Kontrakan.

Untuk memulai bisnis Rumah Kontrakan ini, saya memerlukan biaya yang cukup banyak dan diperlukan adanya bantuan dari pihak ketiga, Bank.
Mempunyai lahan/tanah adalah persyaratan pertama yang harus dipenuhi.
Kebetulan, tanah nya memang sudah ada walaupun tidak begitu luas.
Selanjutnya adalah merancang ruangan rumah kontrakan yang akan dibangun ini. Karena sempat menjadi anak kost, untuk sketsa / denah ini saya sudah punya gambarannya. Saya sedikit bisa mengoperasikan software autocad, lalu denah rumah kontrakan di dalam kertas corat coret ini saya tuangkan di autocad diatas gambar tanah yang saya miliki.

Kondisi saat itu, saya masih tinggal di pondok mertua indah, momen inipun saya pakai untuk membuat rumah kontrakan sekaligus rumah tinggal saya.
Banyak sekali kebetulan, kebetulan saat ini adalah bentuk tanah yang saya miliki adalah segi empat, sehingga hasil corat-coret denah rumah ini menghasilkan 4 kapling rumah kontrakan. Rencananya adalah, 3 kapling untuk disewakan dan satunya lagi untuk saya tinggali.
Setelah beberapa kali diamati, ternyata ruangan nya masih agak sempit, dan pekarangan depannya pun tidak bebas untuk mereka yang menempati, menjemur pakaian atau memarkir motor. Akhirnya denah nya dirubah dan hasil akhirnya adalah 2 kapling rumah kontrakan dan satu kapling untuk saya tinggali. Setelah dipikir, diamati dan dibayangkan, okelah, tidak apa-apa ternyata rumah kontrakannya hanya cukup untuk dua kapling saja. Sedikit atau banyak, ini adalah aset pertama , yang nantinya bisa membuat saya mempunyai penghasilan tanpa harus kerja untuk mendapatkannya. Inilah Passive Income pertama yang ingin diwujudkan.

Denah rumah sudah positif, selanjutnya adalah menghitung bahan yang diperlukan. Dimulai dengan bertanya kepada beberapa ahli bangunan yang saya kenal. Dengan denah rumah yang ada, dengan panjang, lebar dan tinggi sekian meter, berapa banyak bahan-bahan yang dibutuhkan.
Berapa batu-batanya, berapa truk pasirnya, berapa truk batunya, berapa semen, kalsium, kayu, bambu, genteng dan lain-lain yang diperlukan. Setelah dapat semuanya, selanjutnya adalah menghitung biayanya.

Menghitung biaya pembangunan.
Ada rasa tidak percaya diri ketika mengetahui ternyata uang yang dibutuhkan sangat banyak alias besar. Saya menceritakan hal ini kepada beberapa orang yang saya temui, dan beberapa dari mereka yang umurnya lebih tua dari saya, menceritakan tentang pengalaman mereka mewujudkan rumah tinggalnya. Banyak diantara mereka bisa membangun rumah nya yang pada awalnya hanya memiliki jumlah uang dibawah ½ % dari jumlah uang yang dibutuhkan.
Saya tidak tahu maksud dari pembicaraan mereka, yang jelas saya hanya merasa ragu untuk melanjutkan rencana ini, karena kondisi keuangan yang sangat minim.

Mimpi Mempunya Passive Income.
Hidup satu rumah di rumah mertua, sebuah tempat tinggal yang membuat saya tidak sebebas yang diinginkan. Ternyata hal ini menjadi motivasi lain selain termotivasi untuk mempunyai Passive Income.
Saya pun memutuskan melanjutkan rencana dengan berbagai perhitungan. Strateginya adalah menyelesaikan pembangunan dalam beberapa tahap. Setelah satu tahap selesai, istirahat dan bersiap, konsentrasi untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, dan begitu seterusnya.

Tahapannya adalah :
• Tahap #1, membangun sampai pondasi selesai.
• Tahap #2, adalah membangun dinding bangunan (hanya naik batu bata) sampai teduh (pasang genteng).Pada tahap ini, saya terganjal dengan jumlah pengeluaran untuk penyelesaian atap. Jumlah kisaran pengeluaran ini membuat saya kehilangan percaya diri untuk bisa mewujudkannya. Harus ada solusi. Solusinya adalah mencari alternatif lain yaitu mengganti genteng dengan asbes, sehingga biaya bisa berkurang karena pemakaian kayu dan bambu menjadi berkurang. Pembangunanpun berlanjut.
• Tahap #3, adalah fokus untuk yang akan saya tinggali, menyelesaikan dinding bangunan, pintu, jendela dan langit-langit.
• Tahap #4, masih untuk tempat yang saya tinggali, menyelesaikan bagian bawah, lantai dapur, kamar mandi dan aksesoris lain, termasuk pengecatan.
• Tahap #5, memasang listrik sendiri, karena sebelumnya saya numpang pada listrik mertua. Sampai tahap ini, puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena tanpa-Nya, saya tidak bisa apa-apa, dengan izin-Nya, saya mempunyai tempat tinggal sendiri. Bersyukur dan bersiap untuk tahap selanjutnya.
• Tahap #6, menyelesaikan bangunan pertama Rumah kontrakan. Karena luas seluruh ruangannya lebih kecil dari yang saya tinggali, saya memutuskan untuk menyelesaikannya sampai siap huni. Alhamdulillah, tahap ini selesai dan beberapa hari kemudian sudah ada yang menempati.
• Tahap #7, adalah memasang listrik untuk rumah kontrakan tersebut, karena saya berpikir untuk bisa membuat mereka nyaman seperti dirumah sendiri.
• Tahap #8, menyelesaikan rumah kontrakan yang kedua. Rumah kontrakan kedua ini sempat kosong, tidak seperti rumah kontrakan yang pertama yang bisa dibilang langsung ada yang menempati. Untuk listrik di sini, saya memasangnya setelah ada yang menempati.

Alhamdulillah, rencananya bisa dibilang berjalan lancar, walaupun memang didalam perjalanannya banyak hal yang terjadi seperti rasa gelisah ketika belum ada uang menjelang hari kamis, hari dimana saya harus membayar upah kepada para ahli bangunan ini.
Banyak orang tua yang bilang bahwa kalau kita punya keinginan yang kuat, maka pasti akan menemukan jalan untuk mewujudkannya. Manusia tidak punya kekuatan apapun, Allah SWT yang membuatnya terjadi.

Terimakasih dan do’a saya persembahkan untuk mereka yang membantu terwujudnya mimpi ini. Para ahli bangunan, toko material yang baik hati mengizinkan saya berutang dulu, Orang tua saya, orang tua istri, keluarga, teman, semua di tempat kerja, teman dan tetangga, semoga menjadi berkah untuk semuanya.
Yang sedang tinggal di rumah kontrakan saya,semoga mereka juga bisa segera mempunya rumah tinggal sendiri, tidak harus terus tinggal di rumah kontrakan.

Ini hanyalah salah satu perjalanan yang disajikan dengan bahasa sekenanya, mohon ma’af bila ada kata-kata yang tidak berkenan. Semoga ada manfaatnya.
Terimakasih telah meluangkan waktu membaca corat-coret ini.

Baca juga :

Popular Posts

Get Paid to View Sites